Pasirpengaraian (Cakra FM)- Agaknya menjadi hal yang aneh, siapa yang salah? Ketika jalur lintas yang menghubungkan Kabupaten Rokan Hulu dengan Bengakalis di Desa Sontang justru menyebabkan maraknya aksi-aksi pungutan liar (pungli) dengan modus pungutan perbaikan jalan.
Tidak tanggung-tanggung, satu kendaraan harus rela mengeluarkan uang Rp600 ribu demi keamanan dan kenyamanan melintas di jalur itu.
Sebenarnya, sudah lebih satu bulan Jalan Lintas Provinsi yang menghubungkan Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dengan Kota Duri Kabupaten Bengkalis, tepatnya di Desa Sontang mengalami rusak berat bahkan hingga terputus.
Tadinya para sopir truk harus memilih jalur alternatif dengan lewat jalur Lintas Pasir Pengaraian menuju Tibrata Tandun.
Namun setelah jalur itu kembali normal, para sopir justru direpotkan dengan aksi pungli bermoduskan pungutan jasa perbaikan jalan dimana para pelaku yakni kalangan masyarakat Bonai Darussalam.
Sopir truk pengangkut kayu chip, J. Siahaan, mengakui dirinya lebih nyaman melewati lintas Pasir Pangaraian ketimbang Jalinprov Kepenuhan menuju Kota Duri, sebab oknum masyarakat tempatan memanfaatkan momen banjir untuk melakukan “perampokan”.
“Banjir di lintasan itu menjadi lahan basah oknum masyarakat tempatan untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan memungut uang yang nggak tangguk besarnaya. Seperti merampok. Yakni antara Rp50 ribu hingga Rp 250 per truk,” katanya.
Untuk melewati Jalinprov Kepenuhan menuju Kota Duri, diakuinya, pihaknya atau para sopir lainnya harus menyediakan uang minimun Rp 600 ribu untuk sekali lewat.
“Tiap pos kami harus stor uang minimal Rp50 ribu, malah kutipan itu dengan cara memaksa. Jika tidak diberikan, mereka mengancam akan membongkar isi truk,” katanya.
Sopir truk minyak kelapa sawit mentah (CPO), S. Siahaan, mengatakan, banyaknya pos liar dibangun antara Kepenuhan, Bonai Darussalam sampai Kota Duri Kabupaten Bengkalis, membuat dirinya kian ‘gerah’.
“Tapi lewat Pasir Pengaraian menuju Simpang Tri Brata Tandun sampai kawasan Tapung Kabupaten Kampar hanya ada satu kutipan. Kayaknya lebih aman,” katanya.
Pihak perusahaan pemilik atau yang mempekerjakan para sopir truk dan tanki pengangkut CPO dan kayu chip itu mengakui telah berulang mendapatkan informasi tersebut.
“Sudah sering saya mendengar keluhan dari para sopir chip tentang maraknya pungutan liar seperti rampok di Jalinprov Kepenuhan menuju Kota Duri. Rencananya hendak melaporkannya pada pihak polisi, sebab laporan dari para sopir, oknum-oknum ini meminta uang dengan cara paksa,” kata Humas PT Sumatera Silva Lestari (SSL) Herman Hutagaol.
Dinas Perhubungan Provinsi Riau bersama Polri kata dia, sebaiknya segera mengambil tindakan tegas terakit keresahan para sopir itu.
“Karena maraknya pungli berdampak pada biaya produksi perusahaan,” katanya. (Arz)
Tidak tanggung-tanggung, satu kendaraan harus rela mengeluarkan uang Rp600 ribu demi keamanan dan kenyamanan melintas di jalur itu.
Sebenarnya, sudah lebih satu bulan Jalan Lintas Provinsi yang menghubungkan Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dengan Kota Duri Kabupaten Bengkalis, tepatnya di Desa Sontang mengalami rusak berat bahkan hingga terputus.
Tadinya para sopir truk harus memilih jalur alternatif dengan lewat jalur Lintas Pasir Pengaraian menuju Tibrata Tandun.
Namun setelah jalur itu kembali normal, para sopir justru direpotkan dengan aksi pungli bermoduskan pungutan jasa perbaikan jalan dimana para pelaku yakni kalangan masyarakat Bonai Darussalam.
Sopir truk pengangkut kayu chip, J. Siahaan, mengakui dirinya lebih nyaman melewati lintas Pasir Pangaraian ketimbang Jalinprov Kepenuhan menuju Kota Duri, sebab oknum masyarakat tempatan memanfaatkan momen banjir untuk melakukan “perampokan”.
“Banjir di lintasan itu menjadi lahan basah oknum masyarakat tempatan untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan memungut uang yang nggak tangguk besarnaya. Seperti merampok. Yakni antara Rp50 ribu hingga Rp 250 per truk,” katanya.
Untuk melewati Jalinprov Kepenuhan menuju Kota Duri, diakuinya, pihaknya atau para sopir lainnya harus menyediakan uang minimun Rp 600 ribu untuk sekali lewat.
“Tiap pos kami harus stor uang minimal Rp50 ribu, malah kutipan itu dengan cara memaksa. Jika tidak diberikan, mereka mengancam akan membongkar isi truk,” katanya.
Sopir truk minyak kelapa sawit mentah (CPO), S. Siahaan, mengatakan, banyaknya pos liar dibangun antara Kepenuhan, Bonai Darussalam sampai Kota Duri Kabupaten Bengkalis, membuat dirinya kian ‘gerah’.
“Tapi lewat Pasir Pengaraian menuju Simpang Tri Brata Tandun sampai kawasan Tapung Kabupaten Kampar hanya ada satu kutipan. Kayaknya lebih aman,” katanya.
Pihak perusahaan pemilik atau yang mempekerjakan para sopir truk dan tanki pengangkut CPO dan kayu chip itu mengakui telah berulang mendapatkan informasi tersebut.
“Sudah sering saya mendengar keluhan dari para sopir chip tentang maraknya pungutan liar seperti rampok di Jalinprov Kepenuhan menuju Kota Duri. Rencananya hendak melaporkannya pada pihak polisi, sebab laporan dari para sopir, oknum-oknum ini meminta uang dengan cara paksa,” kata Humas PT Sumatera Silva Lestari (SSL) Herman Hutagaol.
Dinas Perhubungan Provinsi Riau bersama Polri kata dia, sebaiknya segera mengambil tindakan tegas terakit keresahan para sopir itu.
“Karena maraknya pungli berdampak pada biaya produksi perusahaan,” katanya. (Arz)

0 komentar:
Posting Komentar