pasirpengaraian (Cakra FM) - Pesat perkembangan lahan kelapa sawit dan karet di Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), mau tidak mau sudah saatnya daerah ini harus memiliki minimal 5 pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) dan pabrik getah sendiri.
Camat Tambusai H. Z. Lupti Jumat (2/10), megatakan daerah Tambusai hampir 90 persen penduduknya bekerja sebagai petani kelapa sawit dan karet. Karena itu, meski saat ini sudah adak PMKS, namun masih kurang, sehingga Tandan Buah Segar (TBS) masyarakat sering terabaikan, sebab pengusaha lebih mengutamakan TBS dari perkebunan. “Mestinya harus menambah 5 Pabrik PMKS, agar TBS masyarakat tidak menunggu lama atau antri dipabrik,”ujar Lupti.
Diterangkannya, memaksimalkan pelayanan pabrik pada petani, khususnya di Tambusai, karena Kelapa sawit di luar areal milik perekebunan atau perusahaan lebih dari 40 ribu hektar, karena dulunya waktu membangun perusahaan, kelapa sawit ini masih berbuah pasir atau ada masih proses penanam.“Sekarang sudah buah super atau buah lebat, meski pihak perusahaan masih sanggup menampungnya, itu harus menunggu lama, yam au tak mau orang harus menmpung juga memang,”ucapnya.
Ditambahkan, begitu juga tanaman karet, butuh 1 pabrik karet, selama ini pihak petani Tambusai khusunya desa Batas dan lainnya, harus menjual ke ke Kota Padangsidempuan Provinsi Sumatera Utara (Sumut), jadi biaya angkutan itu juga dibebankan pada petani. “Kalau ada pabrik karet disini, otomatis harga karet petani itu akan tinggi, maka ekonomi mereka juga sangat terbantu,”tutupnya.
Diharapkan agar Pemkab Rohul bisa datang investor ke Tambusai untuk PMKS dan Pabrik Karet, agar kehidupan dan peningkatan ekonomi petani dapat terbantu, karena selama ini terlihat masih kurang efetif pelayanan dari pihak pengusaha sawit begitu karet harga rendah karena para agen harus keluarkan biaya transportasi. (Arz)
Camat Tambusai H. Z. Lupti Jumat (2/10), megatakan daerah Tambusai hampir 90 persen penduduknya bekerja sebagai petani kelapa sawit dan karet. Karena itu, meski saat ini sudah adak PMKS, namun masih kurang, sehingga Tandan Buah Segar (TBS) masyarakat sering terabaikan, sebab pengusaha lebih mengutamakan TBS dari perkebunan. “Mestinya harus menambah 5 Pabrik PMKS, agar TBS masyarakat tidak menunggu lama atau antri dipabrik,”ujar Lupti.
Diterangkannya, memaksimalkan pelayanan pabrik pada petani, khususnya di Tambusai, karena Kelapa sawit di luar areal milik perekebunan atau perusahaan lebih dari 40 ribu hektar, karena dulunya waktu membangun perusahaan, kelapa sawit ini masih berbuah pasir atau ada masih proses penanam.“Sekarang sudah buah super atau buah lebat, meski pihak perusahaan masih sanggup menampungnya, itu harus menunggu lama, yam au tak mau orang harus menmpung juga memang,”ucapnya.
Ditambahkan, begitu juga tanaman karet, butuh 1 pabrik karet, selama ini pihak petani Tambusai khusunya desa Batas dan lainnya, harus menjual ke ke Kota Padangsidempuan Provinsi Sumatera Utara (Sumut), jadi biaya angkutan itu juga dibebankan pada petani. “Kalau ada pabrik karet disini, otomatis harga karet petani itu akan tinggi, maka ekonomi mereka juga sangat terbantu,”tutupnya.
Diharapkan agar Pemkab Rohul bisa datang investor ke Tambusai untuk PMKS dan Pabrik Karet, agar kehidupan dan peningkatan ekonomi petani dapat terbantu, karena selama ini terlihat masih kurang efetif pelayanan dari pihak pengusaha sawit begitu karet harga rendah karena para agen harus keluarkan biaya transportasi. (Arz)

0 komentar:
Posting Komentar